Web Hosting

Sampai Ketemu di Surga Bu | Cerpen Islami

Siang ini aku senaaaang sekali akhirnya bisa berkumpul lagi bersama keluargaku. Setelah penantian panjang akhirnya aku bisa pulang dan bertemu dengan ayah, ibu, kak miftah dan juga rayhan. Mereka lah mood boosterku selama berada di pondok tahfizh ini. Sejak bulan lalu aku sudah menanti saat-saat ini. Aku ingin segera pulang agar bisa memberi kabar gembira ini buat ibu dan ayah. Kutatap satu persatu orangtua yang menunggu anaknya di pendopo pesantren, tapi tak juga kutemukan ayahku. Aku pun terus berjalan menyusuri keramaian santri dan para walinya. Setelah beberapa menit akhirnya kulihat seorang pria bertubuh tinggi semampai, menggunakan lobe putih dan baju koko putih bak cahaya ditengah ratusan orangtua lainnya. Dengan senyuman indahnya dia memanggil namaku.

Kata Kunci : Cerpen, Cerpen Islami, Kumpulan Cerpen, Cerpen Fiksi
“Lia.. Lia.. Ayah disini”
Aku pun langsung menghampirinya, walaupun agak tegopoh-gopoh karena beratnya tas yang kubawa ini.
“Assalamu’alaikum yah”, sapaku sembari mencium tangannya.
“Wa’alaikumsalam.. Berat tasnya nak? Sini ayah bawakan”
“Haha iya ni yah, berat banget. Tapi gapapa kok aku bawa sendiri aja kasian ayah ngebawanya nanti”
“Udah sini ayah yang bawakan, masak anak gadis ayah yang cantik ini bawa tas yang berat-berat”
“Tapi.. Aku gakmau merepotkan ayah”
Tanpa berlama-lama ayahku langsung mengambil tasku dan membawakannya, aku sangat bahagia memiliki seorang laki-laki tangguh seperti ayahku. Dialah laki-laki yang selalu memberikan seluruh kasih sayang dan perhatiannya kepada keluarga. Dialah laki-laki hebat dalam hidupku yang selalu mengajarkan kami anak-anaknya untuk menjadi pribadi yang thoyyibah.
***
Selama perjalanan menuju rumah aku terus membayangkan kebahagiaan apa yang akan aku temui dirumah nanti. Aku tak sabar melihat senyum ibu dan juga saudaraku yang lain. Aku ingin semuanya bahagia dengan kepulanganku. Suasana ini sudah lama tak kudapatkan. Di becak tua ini  aku merasakan hawa-hawa bahagia yang menantiku. Becak ini seakan memberikan nostalgia tersendiri akan kebahagiaanku di masa kecil. Kebahagiaan yang tiada tara.
“Bu, bu, bu. Itu ayah, itu ayah uda pulang. Kak Nurul pulang bu”
Jeritan adikku Rayhan menyambut kedatangan kami. Dia terlihat sangat bahagia ketika becak yang dibawa ayah sudah parkir di halaman rumah. Aku segera turun dan memeluknya. Aku sangat rindu kepada adikku yang satu ini. Wajahnya yang imut seakan tak pernah berubah untuk menghibur kami semua. Ibuku keluar rumah dengan wajah yang semringah. Aku sangat bahagia melihat senyumnya. Akhirnya setelah 1 tahun tidak pulang aku bisa juga melihat senyum ibuku.
“Assalamu’alaikum bu” Ku cium tangan ibuku dan kupeluk tubuhnya dengan penuh kasih sayang.
“Wa’alaikumsalam. Selamat datang anakku sayang”
“Mana kak miftah bu?”
“Kakakmu masih kuliah. Ayo masuk ke dalam, biar tasnya dibawa Ayah dan Rayhan”
***
“Hayya ‘Alassholah..”
Terdengar azan berkumandang menandakan waktu maghrib telah tiba. Kami sekeluarga segera bergegas menuju masjid karena jaraknya yang dekat dari rumah kami. Rayhan berangkat bersama ayah, aku berangkat bersama ibu dan kak miftah.
Dengan keharuan yang dahsyat, tubuh bergetar dan menggigil dicekam wibawa keagungan-Nya aku berdoa dalam sujud, “Ya Allah, Tuhanku dan Tuhan seru sekalian alam, Terima kasih atas anugerah ini, terima kasih karena Engkau memberikan keluarga yang sempurna untukku. Jadikanlah usahaku ini menjadi pengantar keluargaku di Surga nanti. Pertemukanlah kami di Surga-Mu Ya Allah, Aku mengharap rahmat dan belas kasih-Mu, aku sangat takut akan siksa-Mu. Ya Allah, selimuti aku dengan rahmat-Mu”
Seusai solat kami langsung menuju pulang. Dirumah aku dan Kak Miftah menyiapkan makan malam. Kami yakin masakan kami akan menjadi juaranya malam ini.
Hmmmm bu kayaknya malam ini kita makan enak ni. Dari aromanya saja seperti makanan-makanan di restoran. Rayhan mau makan banyak malam ini.” 
Alhamdulillah, aku sangat bahagia dengan suasana malam ini. Semuanya makan dengan lahap. Dan aku bahagia karena bisa makan bersama keluargaku lagi.  Bisanya di pesantren aku hanya bisa makan seadanya dan ditemani teman-teman satu pondok. Aku yakin hari ini adalah hari terbaikku.
Sepertinya ini adalah saat yang tepat. Aku akan mengatakannya sekarang juga.
Yah, bu. Nurul mau ngomong sesuatu”
BAGIKAN
Berita sebelumyaAbbas ibn Firnas : The First Aviator | Biography
Berita berikutnya15 DOSA di KEPALA WANITA | FIQIH WANITA
Forum Pemuda Muslim yang bergiat dijalan dakwah. Memperkuat intelektual demi menyatukan ummat dengan slogan Al-Ittihadul asas An-Najah (Persatuan Dasar Keberhasilan). Kami bercita-cita untuk mengembalikan Persatuan Ummat dengan ilmu-ilmu yang tertuang pada Al-Qur'an, Hadits, dan kitab-kitab para ulama. Melalui membaca dan rajin mendatangi halaqah kami yakin Ummat Islam bisa lebih cerdas dan mampu bersatu.

LEAVE A REPLY