Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim…
STUDI KRITIS TENTANG NON-MUSLIM MENJADI PEMIMPIN – Dewasa ini pembicaraan tentang Non-Muslim menjadi pemimpin, terkhusus di Indonesia yang lagi marak dibicarakan. Ada sebuah jargon yang lagi nge-trend, yaitu “Pemimpin Non-Muslim tapi Jujur Lebih Baik Dari Pemimpin Muslim yang Zhalim”. Ya… Ini merupakan jargon yang diciptakan untuk mendiskreditkan umat muslim terkhusus di Indonesia.
Sejatinya bahwa yang sebenarnya terjadi adalah sejarah menyebutkan bahwa banyak Pemimpin Non-Muslim yang “Zhalim”. Hal ini dapat dibuktikan di Negara Mayoritas Non-Muslim, umat Islam banyak di diskreditkan, dirampas hak-hak nya, tidak diberikan kebebasan beragama maupun kebebasan yang lain. Padahal, non-Muslim sendiri yang membuat “HAM”. Namun nampaknya tidak diberlakukan “HAM” bagi Umat Muslim.
Kita lihat, di Negara Mayoritas Umat Islam, apakah Non-Muslim “diperlakukan” seperti yang diatas? TIDAK… Umat Islam menjaga bahkan melindungi serta mengayomi Non-Muslim. Didalam Islam diajarkan bahwa orang Non-Muslim wajib dilindungi.
Jadi, yang perlu kita pertanyakan, “Siapa sebenarnya yang zhalim?? Atau mereka begitu ketakutan jika Islam Bangkit dan Bersatu hingga mereka membuat propaganda seperti itu dan mendiskreditkan Umat Islam?? Wallahu A’lam…
Lantas, bagaimana pandangan Islam mengenai Non-Muslim menjadi Pemimpin dikalangan Islam?
Menurut Wahbah Az-Zuhaili didalam bukunya (Al-Fiqh al-Islami wa adillatuhu Jilid VI) menyatakan bahwa Allah SWT melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpinnya. Sebab apabila hal ini terjadi, niscaya segala rahasia kaum Muslimin diketahui oleh Non-Muslim. Selain itu, kaum Muslimin pun boleh jadi akan bersikap penuh kasih sayang terhadap orang-orang non-muslim, sehingga tidak tertutup kemungkinan mereka akan lebih mengedepankan kepentingan Non-Muslim ketimbang kepentingan sesama Muslim (Sudah terjadi di Indonesia kah?? I Think so…)
Mujar Ibnu Syarif didalam bukunya Presiden Non-Muslim di Negara Muslim menegaskan bahwa ada delapan argumentasi mengenai tidak dibolehkan umat Islam mengangkat non-Muslim sebagai pemimpin, sebagai berikut :
1. Karena non-Muslim tidak percaya terhadap kebenaran yang dianut Umat Islam, dan ketika berkuasa mereka bisa bertindak sewenang-wenang terhadap Umat Islam, semisal mengusir Umat Islam dari tanah kelahirannya sebagaimana dulu non-Muslim pernah mengusir Nabi Muhammad SAW dari Mekkah. (Q.S. Al-Mumtahanah [60] : 1).
2. Karena non-Muslim sering mengejek dan mempermainkan agama yang dipeluk Umat Islam. (Q.S. al-Maidah [5]: 57).
3. Karena non-Muslim tidak pernah berhenti menimbulkan kemudharatan bagi Umat Islam, suka melihat Umat Islam hidup susah, dan mulut serta hati mereka menyimpan kebencian terhadap Umat Islam. (Q.S. Ali-Imran [3]: 118).
4. Karena ketika telah berhasil menjadi penguasa atas Umat Islam, non-Muslim tidak akan memihak kepada kepentingan Umat Islam (Q.S. At-Taubah [9]: 8), sebab biasanya mereka akan lebih berpihak kepada perjuangan membela kepentingan sesama umat non-Muslim. (Q.S. Al-Anfal [8]: 73).
5. Karena mengangkat non-Muslim sebagai pemimpin bisa mengantar pelakunya mendapat siksa Allah. (Q.S. An-Nisa’ [4]: 144). Seorang muslim yang sengaja mengangkat non-Muslim sebagai pemimpin bisa dikategorikan sebagai kaum munafik yang diancam siksa pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. (Q.S. An-Nisa’ [4]: 145). Lebih dari itu, bahkan dapat dicap sebagai orang murtad. (Q.S. Al-Maidah [5]: 51).
6. Karena mengangkat pemimpin non-Muslim akan dapat mengakibatkan terjadinya kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar. (Q.S. Al-Anfal [8]: 73). Iman lemah dan kekafran menjadi kuat. Fasad (kerusakan) dimaksud bisa juga berarti lahirnya pertumpahan darah dan berbaurnya kaum muslim dengan kaum kafir yang berimplikasi pada terjadinya kerusakan tatanan agama dan dunia.
7. Karena pada saat berkuasa atas Umat Islam, pemimpin non-Muslim dapat memaksa Umat Islam untuk murtad dari agama Islam. (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 100).
8. Karena pada hakikatnya non-Muslim itu adalah musuh bagi Umat Islam (Q.S. Al-Mumtahanah [60]: 1), sehingga tidak layak dijadikan pemimpin bagi Umat Islam.

Baca Juga : Umat Islam Harus Bersatu

Untuk penutup, penulis mengajak seluruh Umat Muslim (khususnya Indonesia) untuk menghayati Q.S Ali ‘Imran [3]: 103. Bismillahirrahmanirrahim.
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
Wassalam…
Dikutip dari Buku “Politik Hukum Studi Perbandingan dalam Praktik Ketatanegaraan Islam dan Sistem Hukum Barat” karya Prof. Dr. H. Abdul Manan, S.H., S.Ip., M.Hum.
Penyusun : Muhammad Abduh Nasution, Wawan Hanafie, PuTree SyahFiTree
 
Artikel : ItmusMedia.Com
BAGIKAN
Berita sebelumyaUmat Islam Harus Bersatu
Berita berikutnya9 Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Ta’aruf
Forum Pemuda Muslim yang bergiat dijalan dakwah. Memperkuat intelektual demi menyatukan ummat dengan slogan Al-Ittihadul asas An-Najah (Persatuan Dasar Keberhasilan). Kami bercita-cita untuk mengembalikan Persatuan Ummat dengan ilmu-ilmu yang tertuang pada Al-Qur'an, Hadits, dan kitab-kitab para ulama. Melalui membaca dan rajin mendatangi halaqah kami yakin Ummat Islam bisa lebih cerdas dan mampu bersatu.

LEAVE A REPLY