biografi_imam_nawawi

ItmusMedia.Com – Biografi Imam Abu Hanifah ini merupakan edisi ke-2 dari 99 Seri Biografi Ulama Rabbani yang terhimpun dalam kitab عنوان الكتاب : سلسلة أعلام المسلمين المؤلف . Diterjemahkan oleh salah seorang sahabat itmus di kota suci Madinah untuk ItmusMedia.Com. Berikut adalah sebagian sisi kehidupan dari sang mujtahid dan ulama besar yang bersinar di masa Salafusshalih yang diikuti oleh umat Islam hingga saat ini.

 

Imam Abu Hanifah

(80 H – 150 H)

“Abu Hanifah sosok yang sangat amanah. Memberikan pengaruh terhadap apapun”

Waqi’ ibn jarrah (Guru Imam Syafi’i)

“Tidaklah seseorang belajar Fiqh kecuali ia telah berhutang budi pada Abu Hanifah”

Imam Syafi’i
“Abu Hanifah adalah sosok yang ilmu, wara’ serta kezuhudannya tidak terkira oleh siapapun. Dicambuk di masa Khalifah Mansyur namun tidak juga melaksanakannya (Perintah menjadi Qhadi). Rahmat Allah dan segala keridhaanNya tercurah padanya.”
Sufyan at-Tsauri

 

Masa Kecil dan Perkembangannya

Lahir pada tahun 80 H di Kufah. Di masa Khalifah Abdul Malik ibn Marwan. Pada masa khalifah Abbasiyah. Namanya adalah Nu’man ibn Tsabit ibn Marzuban. Ia berasal dari nasab yang mulia di kaumnya. Asalnya adalah ‘kabul’ (Ibukota Afghanistan sekarang). Kakeknya masuk Islam pada masa Umar ibn Khattab dan pindah ke Kufah dan menetap disana. Ia berasal dari keluarga yang kaya. Ayahnya adalah penjual baju. Namun ia menyelisihi ayahnya dan menghafal Al-Qur’an di masa itu, hingga kemudian ia diizinkan untuk mendengarkan hadits.

Perjalanan Menuntut Ilmu

Pada saat berumur 16 tahun ia keluar dari Kufah Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan mengunjungi masjid Rasulullah. Dalam satu riwayat disebutkan saat itu ia melihat manusia berkumpul pada seorang syaikh. Kemudian ia bertanya pada ayahnya, ‘Siapakah itu?’ ayahnya menjawab, ‘dialah yang telah bersahabat dengan Nabi’. Disebutkan ia adalah Abdullah ibn Harits ibn Jaza’ az-zubaidi. Dia bertanya lagi, ‘untuk apa mereka berkumpul padanya?’ ‘untuk hadits yang ia dengar dari Rasulullah’. Maka ia berkata pada ayahnya, ‘Berikan aku padanya’. Maka ia pun memberikannya pada syaikh itu. Lalu ia pun mendengar dari Abdullah Rasulullah bersabda, “Yang bertafaqquh pada agama Allah maka akan dicukupkan keinginannya dan rezekinyadari arah yang tiada terduga”.
Ilmu yang pertama ia tekuni adalah ilmu ushuluddin dan perdebatan ahli ilhad dan sesat. Ia berdebat di Bashrah dengan orang-orang Mu’tazilah dan Khawarij dan juga pengikut Syiah. Namun dari beberapa sahabat dan kerabatnya melarangnya untuk terus dalam perdebatan. Karena itu menghilangkan persahabatan. Ia terus pada ilmu ini dan ilmu kalam perdebatan. Umurnya saat itu masih dua puluh tahun namun ia telah memiliki majelis ilmu itu di masjid Kufah. Hingga kemudian mengarahkannya ke ilmu Fiqh. Sebab berpindahnya ia ke Fiqh saat seorang wanita menanyakan suatu permasalahan tentang talaq.

 

Majelis Gurunya Hamad dan Belajar Fiqih

Berpindah lah Abu Hanifah dari ilmu kalam dan perdebatan ke Ilmu Fiqih. Ia pun belajar dari gurunya Hamad dan bermulazamah padanya. Tidak lama belajar darinya, sang Imam sudah menjadi bagian penting dari majelis gurunya itu. Salah satu adabnya adalah ia akan menunggu sang guru di depan pintu rumahnya hingga ia keluar untuk shalat atau selainnya. Dari itu ia bertanya dan menemani sang guru. Dan apabila sang guru mengingankan sesuatu maka ia akan siap membantu. Dan salah satu adabnya juga, jika ia duduk di rumahnya maka ia tidak akan menjulurkan kakinya ke arah rumah sang guru. Dan jika ia shalat, ia akan mendoakan sang guru dan orangtuanya. Seperti itulah keadaannya hingga 18 tahun lamanya. Wajar jika ialah yang menggantikan majelis sang guru. “Pengganti yang baik untuk salaf yang baik”

 

Gurunya

Gurunya secara keseluruhan adalah 4000 orang. 7 orang dari kalangan sahabat, 93 dari kalangan tabi’in dan selebihnya dari pengikut tabi’in.

 

Abu Hanifah, Wara’ dan Zuhud

Diriwayatkan muaffaq dengan sanadnya dari Mis’ar ibn Kidam ia berkata, “Saya berjalan bersama Abu Hanifah dan kakinya menginjak kaki seorang anak kecil yang tidak dilihatnya. Kemudian si anak kecil itu berkata,’Ya syaikh, apakah engkau tidak takut qhisash nya Allah di hari kiamat?’. Lalu pingsan lah Abu Hanifah. Lalu aku berusaha membangungkannya. Lalu aku berkata,’ Ketakutan seperti apa di hatimu pada perkataan anak kecil itu?’ lalu ia berkata, ‘aku takut yang ia katakan adalah perkataan yang diucapkan oleh-Nya untuk disampaikan.’
Dalam satu riwayat juga disebutkan bahwa Abu Hanifah menghafal Al-Qur’an dan mengkhatakamkannya dalam sebulan sebanyak 30 kali. Dan ia juga bersedekah setiap hari.

 

Wafatnya

Ia wafat pada tahun 150 H di umur 70 tahun, di tahun lahirnya Imam Syafi’i. Disebutkan dalam satu riwayat dari Abdullah ibn Waqid ia berkata, “Hasan ibn Imarah memandikan jenazah Abu Hanifah dan saya menyiramkan air kepadanya. Dan saya lihat tubuhnya teramat kurus dihabiskan oleh ibadah dan zuhud. Dan ketika jenazahnya diangkat untuk dimakamkan saya tidak melihat seorang tidak menangis saat itu”. Dan diriwayatkan bahwa jumlah yang ikut mengantar jenazahnya saat itu sekitar 50 ribu orang dan dishalatkan sebanyak enam kali.

 

Beberapa Karyanya

1. Kitab Ilmu Kalam
2. Al-Fiqh al-Awsath
3. Al-Fiqh Al-Akbar
4. Kitab al’alim wal muta’allim
5. Kitab wasiyyah
6. Kitab ar-Ra’yu
7. Kitab Ikhtilaf as-sahabah
8. Kitab ar-raddu ‘alal qadariyah

——————————
Penerjemah : Ustadz Muhammad Yusuf Habibi
[Artikel ItmusMedia.Com]

LEAVE A REPLY