99 Seri Biografi Ulama

Bismillah, Pada kesempatan kali ini, kami menyajikan biografi salah satu ulama Rabbani yang terhimpun dalam kitab عنوان الكتاب : سلسلة أعلام المسلمين المؤلف. Diterjemahkan oleh salah seorang sahabat itmus di kota suci Madinah untuk ItmusMedia.Com. Berikut adalah sebagian sisi kehidupan Imam Al Ghazali, tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf yang namanya sudah tidak asing lagi ditelinga kaum muslimin. Semoga setiap kaum muslimin yang mengikutinya, hendaknya mengambil hikmah dari sejarah hidup beliau.

 

Imam Ghazali (450 H-505 H)
Hujjatul Islam dan pembaharu abad ke-5

 

99 Seri Biografi Ulama : Biografi Imam Ghazali (1) – Ialah Muhammad ibn Muhammad ibn at-thusi. Lahir pada tahun 450 H di sebuah daerah bernama thus bagian dari Khurasan (Uzbekistan). Adapun ghazzali diambil dari ayahnya yang berprofesi sebagai pemintal (ghazzal). Di masa kecilnya Imam sudah belajar Fiqih dibawah bimbingan gurunya Imam Ahmad ar-radzakani dan kemudian berlanjut pada buaian sang guru Imam Abu Nashr al-Ismaili di Jurjan.
Dalam masa menuntut ilmunya, sang Imam menuju Naishabur dan belajar pada guru-guru Haramain seperti Imam al-Juwaini. Pada sang Imam berusaha dan bersungguh-sungguh hingga kemudian ia berhasil menguasai madzhab Syafi’i, khilafnya dan pertentangannya dan juga ushul ad din dan ushul fiqh.
Abad ke-5 dimana sang Imam tumbuh adalah masa dimana banyak kelompok-kelompok yang menisbahkan dirinya ke agama Islam. Diantaranya adalah mu’tazilah yang sedang “di atas angin” dan mendapatkan tempat di tengah-tengah khilafah. Mereka yang disibukkan dengan filsafat Yunani yang banyak “menghinakan tuhan” dan kuasa-Nya. Mereka yang tidak mengakui adanya hari akhir dan menggaungkan bahwa dunia adalah kekal dan tidak akan berakhir. Ada juga kelompok mutakallimun yang berbangga dengan perdebatan dan pertarungan kata-kata. Disamping kelompok kebatinan yang membuat kerusakan dengan menganggap merekalah manusia yang diwariskan kemaksuman setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Masa ini ummat benar-benar sangat membutuhkan sosok yang dapat menjaga agama Islam dari semua kerusakan ini.
Hingga akhirnya Allah berikan sosok Imam Ghazali menjadi petarung terdepan menghadapi mereka. Melihat keadaan zamannya yang sangat gelap, sang imam mulai mempelajari apa yang menjadi ilmu dan pengetahuan kelompok-kelompok itu. Dalam kitabnya al-munqidzu min ad dalal sang imam bercerita bahwa yang pertama kali ia pelajari adalah ilmu kalam. Disamping ia belajar ilmu ini, ia juga menulis buku-buku untuk membantah kelompok ini. Setelahnya ia belajar filsafat dan menulis buku sebagai bantahan untuk kelompok ini. Dengan bahasa yang sangat sederhana, ia menyajikan sebuah filsafat yang jauh dari filsafat Yunani yang menjadi kebanggan selama berabad-abad itu. Jadilah sang Imam “filsuf” yang hujjahnya tak terbantahkan oleh para pembesar filsafat saat itu.
Setelah menyerang habis-habisan dua kelompok tadi, sang Imam beralih ke kelompok kebathilan yang bahayanya sangat besar di tengah-tengah umat Islam. Mulailah ia membaca buku-buku para ulamanya dan membuka kepada umat semua aib dan keburukan mereka dan menampakkan yang menjadi kesesatannya.
Begitulah kesimpulan dari perjalanan besar sosok yang mulai dilupakan generasi ini. Dialah yang ‘bertarung’ dengan gigih di medan pertempuran pemikiran ini. Dengannya Allah jaga agama ini setelah beberapa saat berada dalam kesesatannya. Darinya Allah tampakkan kecerdasan sekaligus kebesaran sang imam. Saat-saat ini imam sudah mendapatkan tempat yang hebat dalam perjalanan keilmuan masa itu. Ia mendapatkan tempat untuk mengajar di madrasah nizhamiyah di Baghdad dan juga di Naisabur. Para penuntut ilmu banyak berdatang untuk menimba ilmu kepadanya. Semuanya bermacam maksud yang ingin dicari. Ada yang datang untuk belajar akhlak, filsafat dan lainnya. Maka pantas jika disebut Imam Ghazali adalah ulama dengan keilmuan di semua seninya.
Setelah semua kemuliaan yang ia dapatkan, sang Imam mendapati bahwa ia masih jauh dari apa yang menjadi tujuan dalam menggapai ilmu. Itulah amal perbuatan yang begitu sulit untuk didapat kecuali mereka yang Allah berikan kepadanya keutamaan untuk itu. Ia dapati bahwa apa yang ia kerjakan dari mengajar dan memberikan pelajaran untuk manusia adalah untuk mendapatkan tempat di hati manusia dan bukan untuk mengaharap ridha-Nya. Sebuah ungkapan yang sangat masyhur darinya saat ini adalah “Ilmu bagiku sangatlah mudah dibanding amal perbuatan”.
Dari sinilah kemudian sang Imam untuk meninggalkan semua dunia keilmuan yang selama ini ia geluti dan beralih menyendiri mempelajari ilmu Tasawuf sebagai jalan menjalankan apa yang selama ini dipelajari dari ilmu dan pengetahuan. Sang imam berpindah dari Baghdad menuju Damaskus untuk melakukan uzlah dan khalwah. Dan itu ia lakukan hampir selama 10 tahun lamanya.
Disaat ini lah karya terbesarnya ditulis, Ihya Ulumuddin. Setelah mempelajari ilmu tasawuf dan buku-bukunya ia juga memberikan kritikan sekaligus perbaikan untuk tasawuf. Pada masanya ini ia kemudian meluruskan sebagian pandangan serta hal-hal yang dianggap jauh dari agamanya. Ia juga sangat menekankan bahwa ilmu sangatlah diperlukan dalam mempelajari tasawuf. Karena dengannya ia dapat memberikan barometer untuk apa yang ia akan pelajari. Pada tasawuf, Imam Ghazali memberikan warna setelah sebelumnya tasawuf dicampur adukkan dengan hal-hal yang berlebihan dan tanpa ilmu. Ia sangat berpengaruh dalam hal ini, sama seperti halnya ia memberi warna sekaligus membawa pengaruh besar di tubuh mu’tazilah.
Setelah melewati masa 10 tahun, gubernur dan para wazir memintanya untuk kembali mengajar madrasah nizamiyah Naisabur. Kembali lah ia ke tengah-tengah umat dengan wajah yang baru. Seorang imam yang datang memberi ilmu sekaligus teladan amal. Pada tahun 505 hijriah kembalilah sosok panutan umat ini menghadap Rabb-Nya setelah melaksanakan semua tuga kekhalifaan yang diembannya. Detik-detik menjelang wafatnya, salah satu sahabatnya meminta wasiat kepadanya. Sang imam berwasiat “Hendaklah engkau selalu ikhlas” itu terus ia ucapkan sampai maut menjemputnya. Rahimahullah rahmatan wasi’ah
Dialah ulama dengan segala kemampuannya. Disamping dikenal dengan akal yang cemerlang dan kata-kata yang tersusun sempurna dalam menghadapai musuh-musuhnya, ia juga ulama dengan banyak karyanya. Beberapa ulama setelahnya menyebut bahwa karyanya mencapai 200 an karya. Ada juga yang menyebut karyanya mencapai 70 buku. Berikut ini beberapa karya sang Imam,
1. Ihya Ulumuddin (Fiqih, adab dan tazkiyah nafs)
2. Al-mundqizu min ad-dhalal (Biografi yang ia tulis sendiri)
3. Bidayatul Hidayah (Akidah)
4. Maqasidhul falasifah (Filsafat)
5. Tahafut al falasifah (Filsafat)
6. Al-qisthasul mustaqim (Mantiq)
7. Mi’yarul ilmi (Mantiq)
8. Al-mustashfa (Ushulul Fiqh)
9. Al-basith (Fiqih)
10. Al-Wasith (Fiqih)
11. Al-wajiz (Fiqih)
12. Al-Khulashah (Fiqih)
13. Ayyuhal Walad (Adab dan akhlak)

Biografi Imam Ghazali, Kitab karya al-ghazali Biografi Imam Ghazali, Kitab karya al-ghazali  Biografi Imam Ghazali, Kitab karya al-ghazali Biografi Imam Ghazali, Kitab karya al-ghazali
Biografi Imam Ghazali, Kitab karya al-ghazali Biografi Imam Ghazali, Kitab karya al-ghazali Biografi Imam Ghazali, Kitab karya al-ghazali

——————————
Biografi singkat ini disarikan dan diterjemahkan dari buku al-Imam Ghazali hujjatul islam wa mujaddidu al-miah al-khamisah karya Shalih Ahmad as-syamii, cet. Darul Qalam Damaskus

Penerjemah : Ustadz Muhammad Yusuf Habibi
[Artikel ItmusMedia.Com]

BAGIKAN
Berita sebelumyaBunga Diri Yang Bercermin Kalam
Berita berikutnyaDakwah Cinta : ‘I Believe, Jomblo Itu Ketenangan Dan Menikah Itu Membahagiakan’
Forum Pemuda Muslim yang bergiat dijalan dakwah. Memperkuat intelektual demi menyatukan ummat dengan slogan Al-Ittihadul asas An-Najah (Persatuan Dasar Keberhasilan). Kami bercita-cita untuk mengembalikan Persatuan Ummat dengan ilmu-ilmu yang tertuang pada Al-Qur'an, Hadits, dan kitab-kitab para ulama. Melalui membaca dan rajin mendatangi halaqah kami yakin Ummat Islam bisa lebih cerdas dan mampu bersatu.

8 KOMENTAR

LEAVE A REPLY