kitab-risalah-ahlussunnah-wal-jamaah
ItmusMedia.Com – Fatwa KH. Hasyim Asy’ari tentang Pentingnya Menganut Salah Satu Empat Madzhab. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

(اِنَّ اللّهَ لاَيَجْمَعُ اُمَّتِى عَلَى ضَلَالَةٍ ، وَيَدُاللّهُ عَلَى الْجَمَاعَةِ ، مَنْ شَذَّ شَذَّ اِلَى النَّارِ (رواه الترمذى

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku atas kesesatan, pertolongan Allah akan diberikan kepada jamaah, dan orang keluar dari jamaah akan berada dalam neraka seorang diri. (HR. Tirmidzi)

 

Ibnu Majah menambahi redaksi Hadits

فَاِذَا وَقَعَ الْاِخْتِلَافُ فَعَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الْاَعْظَمِ ، مَعَ الْحَقِّ وَاَهْلِهِ

 

Artinya : Jika terjadi perbedaan pendapat, hendaklah kalian berpegang kepada al-sawadul a’dzam bersama-sama faham yang benar dan para pengikutnya.
Dalam redaksi kitab “Jami’ Shaghir” disebutkan

اِنَّ اللَّهَ قّدْ اَجَارَ اُمَّتِى اَنْ تَجْتَمِعَ عَلَى ضَلَالَةٍ

Artinya : Sesungguhnya Allah telah melindungi umatku untuk berkumpul atas kesesatan. (HR. Ibnu Abi Ashim)

 

Mayoritas para ulama adalah pengikut madzhab empat. Maka Imam Bukhari adalah bermadzhab Syafi’i, beliau mengambil hadits dari al-Khumaidi, al-Za’farani, dan al-Karabisi. Begitu juga Ibnu Khuzaimah dan al-Nisa’i. sedangkan Imam Junaid al-Baghdadi bermadzhab Sufyan Tsauri, Imam al-Syibli bermadzhab Maliki, Imam al-Muhasibi bermadzhab Syafi’i, Imam al-Jariri bermadzhab Hanafi, Syeikh Abdul Qadir al-Jailani bermadzhab Hanbali, dan al-Syadili bermadzhab Maliki.
Jadi bertaqlid pada salah satu madzhab tertentu menjamin pada hakikat kebenaran, dan lebih dekat pada ketelitian, dan lebih mudah mendapatkan ajaran. Inilah yang telah dianut oleh para ulama salaf shaleh r.a..
Maka kami anjurkan bagi saudara kami umat Islam yang awam, supaya bertaqwa kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan tidak mati kecuali dalam Islam. Hendaklah menjalin tali persaudaraan di antara mereka, terus menyambung silaturrahim, berbuat baik kepada tetangga, kerabat maupun saudara. Menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang muda. Kami melarang mereka untuk saling bermusuhan, terpecah belah. Kami anjurkan mereka untuk menjalin tali persaudaraan, tolong menolong dalam kebaikan, dan berpegang dengan tali Allah dan tidak terpisah-pisah, mengikuti Al-Kitab dan al-Sunah sebagaimana para ulama’. Seperti Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka adalah para ulama’ yang bersepakat untuk tidak keluar dari ajaran madzhab mereka. Jikalau ada yang keluar dari jamaah ini maka Rasulullah telah bersabda : “barang siapa keluar dari jamaah, maka akan sendirian dalam neraka.” (مَنْ شَذَّ شَذَّ اِلَى النَّارِ) dan supaya selalu dalam jamaah yang mengikuti jalannya para salah shaleh.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

اَنَا أمُرَكُمْ بِخَمْسٍ اَمَرَنِىَ اللَّهُ بِهِنَّ ، السَّمْعَ وَالطَّاعَةَ وَالْجِهَادَ وَالْهِجْرَةَ وَالْجَمَاعَةَ ، فَاِنَّ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ قُيْدَ شِبْرٍ فَقَدْخَلَعَ رِبْقَةَ الْاِسْلَامِ عَنْ عُنُقِهِ

Artinya : Aku perintahkan kalian melakukan lima hal yang telah diperintahkan oleh Allah kepadaku : mendengarkan dan mengikuti pemimpin, berjihad, hijrah, dan berada dalam jalan jamaah. Barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah meskipun sedikit, berarti ia telah melepaskan ikatan islam dari lehernya.

 

Umar bin al-Khattab berkata :

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَاِيَّاكُمْ وَالْفِرْقَةِ ، فَاِنَّ الشَّيْطَانِ مَعَ الْوَاحِدِ، وَهُوَ مِعَ الْاِسْنَيْنِ اَبْعَدُ، وَمَنْ اَرَادَ بِحُبُوْبَةِ الْجَنَّةَ فَاليُلَازِم الْجَمَاعَة

Artinya : Tetaplah dalam jamaah, jauhilah perpecahan, sesungguhnya syetan itu bersama orang yang bersendiri, dan syetan akan lebih jauh karena berdua, barang siapa yang menginginkan surga hendaklah selalu dalam jamaah.
Penyusun : Ibnu Fathul Islam
Artikel ItmusMedia.Com
————————————————————————-
Tulisan ini dikutip dari Kitab : “Risalah Ahlussunah wal Jama’ah : Analisis Tentang Hadits Kematian, Tanda-tanda Kiamat, dan Pemahaman Tentang Sunah & Bid’ah” Pasal III hal. 23-27.
Judul asli kitab :
Risalah ahl al-Sunah wa al-Jamaah  : fi hadits al-mauta wa asyrath al-sa’at wa bayan mafhum al-sunah wa al-bid’ah.
Penulis :
Hadzrat al-Syeikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari
Jakarta 2011, LTM-PBNU
vi + 214 hlm; 11×14,5 cm
Penerjemah :
Ngabdurrohman al-Jawi
Ditashih oleh :
KH. Abdul Manan A. Ghani
Editor :
H. Syaifullah Amin
Dan Team Santri Ciganjur
Setting & lay Out
Mustiko Dwipoyono
Diterbitkan oleh :
LTM PBNU dan Pesantren Ciganjur

 

9 KOMENTAR

LEAVE A REPLY