(Buku Gila Baca Ala Ulama / Hal. 5-18)

Al-‘Allamah al-Maqrizi berkata,

Sungguh jiwaku berpaling dari canda tawa
Bosan berjumpa manusia meski terpandang
Alhamdulillah, aku sibuk mengasah ilmu dan tidak pernah lari dari kesibukan
Sering kali si penulis jeli dengan kebenaran ilmu, akal dan sumber rujukan menjadi bekal
Saat ilmu terhimpun di dalam di dadaku, jiwaku menjadi bersih dan terhibur selalu

“Kerinduan para penuntut ilmu terhadap ilmu itu lebih besar daripada kerinduan seseorang
terhadap kekasihnya. Kebanyakan mereka tidak terpesona dengan keelokan fisik manusia.
Seandainya ilmu itu bisa digambarkan,tentu ia lebih indah daripada matahari dan rembulan.”

Ibnul Qoyyim, Raudhatul Muhibbin

(Buku Gila Baca Ala Ulama / Hal. 19-32)

Imam Ibnul Jauzi mencela lemahnya semangat menyebabkan hilangnya banyak kitab ilmu terdahulu. Dia berkata, “Semangat ulama terdahulu sangat tinggi, buktinya adalah karya-karya tulis yang merupakan hasil jerih payah mereka dalam waktu yang lama. Namun demikian, banyak karya mereka itu lenyap karena lemahnya semangat generasi berikutnya. Mereka hanya mempelajari kitab-kitab ringkas dan malas terhadap kitab-kitab tebal. Kemudian, mereka hanya membatasi pada sebagian kitab ringkas itu sehingga hilanglah kitab-kitab tebal dan belum sempat di salin. (Imam Ibnul Jauzi, Shaidul Khatir)

Semakin bertambahnya ilmu pada diri seorang ulama, maka bertambah pula wawasannya tentang keutaman dan kedudukan ilmu, serta kadar ilmu yang hilang dari ingatannya. Ketika itu, jiwanya sangat ingin mendapatkan tambahan ilmu meski harus menghadapi berbagai rintangan. (Hal.25)

(Buku Gila Baca Ala Ulama / Hal. 33-46)

(Hal. 37-38)

“Jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang telah engkau ketahui. Sebab, perasaan puas seperti itu menunjukkan kurangnya perhatian terhadap ilmu. Kurangnya perhatian terhadap ilmu akan mendorong seseorang meninggalkan ilmu. Apabila seseorang meninggalkan ilmu, maka diapun menjadi bodoh.”

Imam al-Mawardi, Adab ad-dunya wa ad din

Ibnul Jauzi dalam bukunya Shaidul Khatir, “Perkala paling utama adalah mencari tambahan ilmu. Sebab, orang yang membatasi ilmunya dan merasa cukup dengannya pasti akan keras kepala. Perasaan superiornya akan menghalanginya dari mendapatkan manfaat. Dengan belajar, seseorang dapat mengetahui kesalahannya.” (Hal.36-37)

Ambillah pelajaran dari semangat yang tinggi ini. Tangisilah kelalainmu dan semangatmu yang rendah. Kejarlah urusanmu yang tertinggal dengan serius, dan teruslah belajar serta mengkaji. Orang yang mau menempuh perjalanan pasti akan sampai pada tujuan. Dan orang yang mengadakan perjalanan malam akan dipuji di pagi hari. (Hal.45)

(Buku Gila Baca Ala Ulama / Hal. 47-60)

Ibnu Jauzi berkata menceritakan dirinya, “Aku tidak pernah kenyang membaca buku. Jika menemukan buku yang aku belum pernah aku lihat, maka aku seolah-olah aku mendapatkan harta karun. Aku pernah melihat katalog buku-buku wakaf di madrasah an- Nidhamiyyah yang terdiri dari dari 6.000 jilid buku. Aku juga melihat katalog buku Abu Hanifah, Al-Humaidi, Abdul Wahhab bin Nashir dan yang terakhir Abu Muhammad bibn Khasysyab. Aku pernah membaca semua buku tersebut serta buku lainnya. Aku pernah membaca 200.000 jilid buku lebih. Sampai sekarang aku masih terus mencari ilmu.” (Hal.54)

Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah dalam kitab Raudhah al-Muhibbin menuturkan bahwa gurunya, Ibnu Taimiyyah pernah bercerita, “Saya tertimpa sakit, maka dokter berkata padaku, ‘Sesungguhnya aktivitasmu dalam menelaah dan membicarakan ilmu memperparah penyakitmu.’ Saya pun berkata kepadanya, ‘Saya tidak sabar melakukan hal itu. Saya akan menerangkan kepadamu dengan ilmumu. Bukankah jika jiwa itu bergembira dan bahagia, maka tabiatnya akan kuat sehingga mampu menolak penyakit?’ Dokter itu menjawab ‘Ya’. Kemudian saya berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya jiwaku bahagia dengan ilmu sehingga menjadikannya kuat dan tentram.’ Maka dokter itu berkata, ‘Jika demikian, maka ini di luar pengobatan kami’.”

Ibnu Qoyyim juga mengatakan, “Seperti apa yang saya ketahui beliau sering menderita sakit kepala dan demam. Saat sakit beliau menaruh buku di samping kepalanya. Jika tersadar, dia membaca buku itu. Namun, jika merasa tidak mampun menguasai dirinya, dia letakkan buku itu. Pada suatu hari, dokter menemuinya dalam keadaan demikian. Dokter lalu berkata, ‘Anda tidak boleh melakukan perbuatan ini. Anda harus membantu diri anda sendiri, sedangkan perbuatan ini akan menyebabkan anda lama sembuh’.” (Hal 53-54)

Al-Jahizh dalam Al-Hayawan mengatakan, “Barangsiapa yang ketika membeli buku tidak merasa nikmat melebihi nikmatnya membelanjakan harta untuk orang yang dicintai, atau untuk mendirikan bangunan, berarti dia belum mencintai ilmu. Tidak ada manfaatnya harta yang dibelanjakan hingga dia lebih mengutamakan untuk membeli buku, seperti orang Arab Badui yang lebih mengutamakan susu kudanya daripada untuk keluarganya. Hingga dia juga sangat berharap untuk memperoleh ilmu sepertinya halnya orang Arab Badui yang sangat mengharapkan kudanya.” (Hal.50)

(Buku Gila Baca Ala Ulama / Hal. 61-74)

Imam ad-Dzahabi di dalam bukunya menyebutkan bahwa Ibnu Thahir al-Maqdisi berkata, “Aku pernah kencing darah dua kali ketika mencari hadist. Pertama, di Baghdad dan kedua di Mekkah. Aku berjalan tanpa alas kaki di bawah terik matahari. Aku pun tidak berkendara sama sekali dalam usahaku mencari hadist. Buku-buku pun aku pikul dengan punggungku, tanpa harus meminta pertolongan orang lain. Hingga akhirnya aku menjadi seperti hari ini.” (Hal.62- 63)

Al-hafidz ad-Dzahabi dalam buku Siyar A’lam an-Nubala’ ketika menyebutkan biografi al-Qadhi ar-Rahmarhumuzi, penulis al-Muhaddits al-Fashil, beliau berkata, “Ini adalah salah satu buku ilmu hadist yang paling bagus yang aku ketahui, seorang berkata, ‘sungguh as-silafi hamper tidak pernah melepaskan tangan untuk membaca bukunya.’ (Hal.64) Ibnul Mubarak lebih banyak berdiam diri di dalam rumahnya. Oleh karena itu seseorang bertanya kepadanya, “Apakah engkau tidak merasa kesepian?” “Bagaimana aku merasakan kesepian sedang Rasulullah dan para sahabat selalu bersamaku.’ tegas Ibnul Mubarak.

(Buku Gila Baca Ala Ulama / Hal. 75-88)

Ibnul Jahm berkata, “Apabla rasa kantuk mulai menyerang kedua mataku bukan pada waktunya, maka aku segera membaca buku mutiara hikmah. Kemudian spirit membacaku pun kembali tergugah. Aku menemukan kembali kelapangan hati saat harus memenuhi kebutuhan. Sedang kesenangan dan kemuliaan yang memenuhi hatiku lebih cepat membuatku bangun daripada ringkikan keledai atau gemuruh reruntuhan.” (Hal.75)

Suatu hari di Baghdad diselenggarakan bazar buku-buku Ibnu Al-Jawaliqi. Al-Hafizh Abul Alla’ Al-Hamadzani pun menghadirinya. Orang-orang pun menjajakan sebagian buku buku-buku itu dengan harga 60 dinar (Rp 106.017.660). Lalu Abu Alla’ Al-Hamadzani membeli sebagian buku Ibnu Al-Jawaliqi dengan harga 60 dinar dengan tempo satu minggu, terhitung sejak hari Kamis sampai hari Kamis selanjutnya.” (Hal.78-79)

(Buku Gila Baca Ala Ulama / Hal. 89-102)

Ibnu Khalikan menuturkan penyebab wafatnya Ahmad ibn Yahya, “Beliau telah mengalami gangguan pendengaran dan tidak dapat mendengar kecuali dengan sangat susah payah. Pada hari Jum’at setelah Ashar ketika hendak pulang dari masjid, beliau berjalan sambil mempelajari buku yang beliau pegang. Tiba-tiba seekor kuda menerjangnya, beliau pun terjatuh ke dalam jurang. Setelah diselamatkan dari dalam jurang, keadaan beliau seperti orang bingung. Kemudian beliau dibopong menuju rumahnya sambil merintih kesakitan karena luka pada kepalanya. Di hari kedua setelah kejadian tersebut beliau meninggal dunia (Hal.90)

Syaikh Ali Thanthawi berkata, “Aku hari ini adalah aku yang kemarin. Sebagaimana dahulu aku masih kecil, aku menghabiskan hari-hariku di dalam rumah untuk membaca. Dahulu aku pernah membaca 300 lembar dalam sehari. Sedangkan kalau dirata-rata aku membaca 100 lembar setiap harinya, yaitu sejak tahun 1340 hingga 1402 H. 62 tahun, coba hitung ada berapa hari di dalamnya, lalu kalikan seratus. Kalian lebih tahu berapa halaman yang telah kalian baca. Sedang saya membaca seluruh tema hingga tema-tema ilmu pengetahuan. (Hal.94)

(Buku Gila Baca Ala Ulama / Hal. 103-116)

Al-Hafidz Ibnu Abdil Hadi, murid Ibnu Taimiyah di dalam Mukhatasar Thabaqat ‘Ulama Hadist menuturkan apa yang pernah dilakukan gurunya, dia berkata, “Beliau banyak membaca buku, mendengarkan kajian selama bertahun-tahun, dan pernah mengkhatamkan Al-Ghalaniyat (Ensiklopedia Hadist karya Abu Thalib ibn Muhammad ibn Ibrahim ibn Ghailan. Terdiri dari 11 jilid) dalam sekali baca.”

Ibnu Abdil Hadi berkata, “Jiwanya tidak pernah kenyang dengan ilmu dan selalu berusaha untuk melakukan pendalaman. Sebagaimana beliau tidak pernah bosan dengan kesibukan dan tak lelah untuk mengkaji ilmu.

(Buku Gila Baca Ala Ulama  / Hal. 117-130)

As-Sakhawi di dalam ad-dhau’ ‘Al-Lami’ ketika menyampaikan biografi Utsman ibn Muhammad Abi Amr ad-Diyami asy-Syafi’I, dia menghitung jumlah buku yang dibacanya saat perjalanan ke Madinah, dia berkata, “Selama di Madinah beliau mengkhatamkan Shahih Bukhari selama empat hari di Raudhah.” (Hal.118)

Imam as-Subki dalam Thabaqat asy-Syafi’iyah al-Kubra ketika menyampaikan biografi Rabi’ Ibnu Sulaiman al-Muzani, teman karib Imam as-Syafi’i, dia berkata, ’50 tahun aku sudah mengkaji ar-Risalah (buku Ushul Fiqh karya Imam Syafi’i), setiap kali mendalaminya kembali, aku dapatkan hal-hal baru yang tak pernah aku ketahui sebelumnya.” (Hal.123)

(Buku Gila Baca Ala Ulama / Hal. 131-144)

Ilmu itu bukanlah yang mengisi lemari buku
Ilmu adalah apa yang terkandung dalam hati
Betapa banyak manusia yang mengisi keranjangnya
Dengan kitab-kitab ilmu, dia menghitung dan menatanya
Ketika kamu menguji ilmunya
Dia berkata, “Wahai kekasihku, ilmuku ada di dalam keranjang
Di dalam buku-buku yang indah dan terjaga
Dengan bermacam-macam tulisan.”
Karena itu katakanlah kepada dia, “Kalau begitu berikanlah kepadaku.”
Niscaya dia hanya akan menggaruk-garuk jenggot dan kumis serta mencabutnya.

(Buku Gila Baca Ala Ulama / Hal. 145-158)

Ibnu Rajab dalam dzail at-Thabaqat menceritakan biografi Abdul Faraj ibn al-Jauzi, seorang penulis buku, bahwa beliau tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Dalam sehari beliau mampu menulis 4 buku, dan setiap tahun jumlah bukunya bertambah sekitar 50-60 jilid buku.

Seorang cucu Ibnu Jauzi pernah berkata di atas mimbar di akhir hidupnya, “Sungguh aku telah menulis 2.000 jilid buku dengan dua jariku ini.” (Hal.145)

Imam Nawawi berkata di dalam buku Syarh Shahih Muslim, “Berdiskusi dengan orang yang pandai tentang suatu ilmu selama satu jam lebih bermanfaat daripada menela’ah atau menghafal selama berjam-jam, bahkan berhari-hari”.

(Buku Gila Baca Ala Ulama / Hal. 159-172)

Imam Nawawi berkata, “Janganlah seseorang itu meremehkan suatu ilmu yang dia lihat atau dia dengar. Akan tetapi, segerelah dia mencatat dan menela’ahnya.” Kemudian ia juga berkata, “Janganlah seseorang itu menunda-nunda dalam mendapatkan faedah, meskipun dia bisa mendapatkannya nanti setelah satu jam. Karena sikap menunda-nunda hanyalah penyakit. Sedangkan pada waktu yang kedua terdapat ilmu yang lain. (Hal.160)

Al-Hafidz ibnu Hajar dalam biografi Imam Zarkasyi, penulis al-bahr al-muhith dan kitab lainnya menyebutkan bahwa Imam Zarkasyi sering bolak-balik ke pasar buku. Sesampainya disana dia mengambil satu buku dan ditelaahnya sepanjang siang itu. Dia selalu membawa secarik kertas untuk mencatat sesuatu yang membuatnya kagum. Setelah itu dia pulang dan memindahkan catatannya itu ke dalam buku karyanya sendiri. (Hal.163)

Tambahan Ringkasan:

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam bukunya Adz-Dzail’Ala Thabaqat Al-Hanabilah menyebutkan sepintas biografi Ibnu Aqil Al-Hanbali yang bersumber dari Ibnul Jauzi bahwa dia berkata, “Ibnu Aqil selalu menyibukkan diri dengan ilmu. Sampai-sampai kau pernah melihat tulisannya berbunyi, ‘Tidak selayaknya aku menyianyiakan usiaku meski sesaat. Oleh karena itu apabila telah lelah lisanku dari mengulang-ulang hafalan atau berdiskusi, dan kedua mataku dari membaca, maka aku memaksimalkan fungsi otakku ketika beristirahat. Akut tidak akan bangkit dari tempatku hingga terpikir dalam benakku sebuah masalah yang akan aku tulis. Sungguh, pada usia 80 tahun ambisiku terhadap ilmu lebih tinggi daripada saat usia 20 tahun’.”

Ibnu Rajab Al-Hanbali menukil pernyataan Ibnu Aqil berkenaan dengan dirinya, “Aku berusaha membatasi seminimal mungkin waktu makanku. Sampai-sampai aku lebih menyukai makan roti kering yang dicelupkan ke dalam air agar mudah dicerna dan dikunyah daripada harus memakan roti biasa. Hal itu kulakukan agar waktu membacaku lebih banyak sehingga bisa menulis ilmu yang belum kuketahui.”

As-Sakhawi dalam bukunya Adhau’ Al-Lami’ menegaskan profil singkat ahli bahasa, Imam Muhammad ibn Ya’qub Fairuz Abadi bahwa beliau menyeleksi buku-buku yang berharga. Sebagaimana sebagian orang pernah mendengarnya berkata, “Aku telah membeli berbagai buku seharga 50.000 mitsqal emas (Rp 21 Milyar 250 Juta). Meski buku-buku itu harus diangkut beliau tetap membawanya ketika berpergian. Setiap beliau singgah di suatu tempat, tak lupa beliau keluarkan buku-buku itu untuk dibaca. Dan apabila hendak melanjutkan perjalanannya beliau pun menaruh buku-buku tersebut ke tempat semula.”

Bait-Bait yang terpampang di lemari Imam Abu Bakar Al-Qaffal,

Kekasihku adalah buku yang takkan muak denganku
Meski harta menjadi sedikit dan ketampanan mulai susut
Buku sang pujaan hatiku, di kala tak ada tambatan kalbu
Kan kurayu jikalau dia memahami rayuan kalbu
Buku..teman setiaku kala duduk, yang takkan merasa jemu
Penjelas kebenaran yang tak membuatku jemu
Buku…lautan yang takkan menarik pemberiannya
Membanjiriku dengan harta, meski harta menahannya
Buku..petunjuk terbaik untuk meraih asaku
Darinya selalu ada pengalaman baru dan penerang langkahku

 


Artikel ItmusMedia.Com
Penulis : Muhammad Ahmad Harahap

BAGIKAN
Berita sebelumyaKetatanegaraan Pada Masa Nabi Muhammad SAW
Berita berikutnyaKepengurusan
Forum Pemuda Muslim yang bergiat dijalan dakwah. Memperkuat intelektual demi menyatukan ummat dengan slogan Al-Ittihadul asas An-Najah (Persatuan Dasar Keberhasilan). Kami bercita-cita untuk mengembalikan Persatuan Ummat dengan ilmu-ilmu yang tertuang pada Al-Qur'an, Hadits, dan kitab-kitab para ulama. Melalui membaca dan rajin mendatangi halaqah kami yakin Ummat Islam bisa lebih cerdas dan mampu bersatu.

LEAVE A REPLY