ItmusMedia.Com – Biografi Imam Nawawi ini merupakan edisi ke-3 dari 99 Seri Biografi Ulama Rabbani yang terhimpun dalam kitab عنوان الكتاب : سلسلة أعلام المسلمين المؤلف . Diterjemahkan oleh salah seorang sahabat itmus di kota suci Madinah untuk ItmusMedia.Com. Berikut adalah sebagian sisi kehidupan dari sang penulis kitab Riyadhus Shalihin.

 

Imam Nawawi

(631 H – 676 H)

“Seorang Imam yang menjadi tauladan, pengfahal yang zuhud, ahlu ibadah yang faqih, mujtahid, syaikhul Islam, sosok yang baik”

Imam ad-Dzahabi

“Ialah Imam, sesosok hafidz yang ‘alim, faqih yang cerdas, muharrar madzhab dan penyempurnanya. Ahli ibadah yang ‘alim dan zuhud.  Alim yang sederhana dalam hidup dan bersabar akan semua kesulitan. Dan derajat wara’ yang tiada seseorang mencapainya di zamannya atau setelahnya”

Imam Ibnu Katsir

Namanya adalah Abu Zakaria ibn Abi Yahya Syaraf an-Nawawi. Ia lahir di daerah Nawa pada 10 Muharram pada tahun 631 H. Salah satu keanehan yang terjadi di masa kecilnya, peristiwa pada saat ia berumur 7 tahun, saat malam 27 Ramadhan ia terbangun di pertengahan malam. Ayahnya berkata, “Ia pun membanguni kami”. Ia berkata, “Ya ayahku, sinar apa yang memenuhi rumah ini?” lalu bangun lah semua penghuni rumah, dan tidak ada dari mereka yang melihat itu. Berkata ayahnya, “darinya kami tahu itulah malam lailatul qadr”.

Perjalanan Menuntut Ilmu

Menuju Damaskus

Pada tahun 649 H ia menuju Damaskus bersama ayahnya. Saat itu umurnya tahun 18 tahun. Sesampainya di Damaskus ia belajar kepada Tajuddin Abdurrahman ibn Ibrahim ibn dhiya’ al-Fazzari.

Perjalanan Haji

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa sang Imam menunaikan haji saat ia tinggal di Damaskus. Dan saat kembali dari perjalanan haji itu semakin tampak tanda-tanda kecerdasan dan pemahamannya.

Kesungguhan menuntut ilmu

  • Imam Sakhawi menyebutkan, “Ia telah memberikan contoh dan teladan yang mengagumkan. Rahimanullah berkata,’Saya hidup selama dua tahun dan tidak meletakkan lambungku ke tanah’.
  • Imam ad-Dzahabi berkata, “Ia telah membuat permisalan bagaimana seharusnya menuntut ilmu siang dan malam dan meninggalkan tidur kecuali dalam kelelahan. Menentukan waktu-waktunya dengan melazimkan belajar, menulis dan membaca serta mendatangi guru-guru.”
  • Al-Quthb al-Yunaini bercerita, “Ia tidak menyia-nyiakan waktu siang dan malam kecuali menuntut ilmu. Hingga saat pergi atau kembali di jalan ia akan menyibukkan dengan hafalan atau bacaannya. Dan ia tetap dalam keadaan seperti ini selama enam tahun lamanya.
  • Badr ibn Jamaah bercerita, saat ia ditanya tentang tidurnya. Ia berkata, “Jika aku tertidur, aku bersandar pada buku-bukuku sebentar dan kemudian tersadar lagi. Di buku miftahus sa’adah” disebutkan bahwa ia banyak bersyahirul lail untuk beramal dan menuntut ilmu.
  • Disebutkan ia belajar setiap hari dengan membaca 12 pelajaran.

Guru-Gurunya

Dalam Fiqih ia berguru pada beberapa ulama seperti, Tajuddin al-Fazzari (al-Farkah), Ishaq al-Maghribi, Abdurrahman ibn Nuh, Umar ibn Sa’ad al-irbili.
Dalam bidang HaditsIbrahim ibn isa al-maradi al-andalusi (10 tahun), Abu Ishaq ibn Abi Hafs Umar ibn madhr al-wasithi, Zainuddin abul baqa’ Khalid ibn Yusuf ibn Sa’ad, ar-Radhi ibn burhan. Adapun dalam bidang bahasa, ia berguru kepada, Ahmad ibn Salim al-Mishri, Ibn Malik, al-Fakhr al-maliki

Murid-Muridnya

Diantara murid yang belajar di tangannya adalah, ‘alud din Abul Hasan Ali ibn Ibrahim ibn Daud ad-dimisyqi, Abul Abbas Ahmad ibn Ibrahim ibn Mus’ab, Muhammad ibn Abi Bakr ibn Ibrahim ibn Abdir rahman ibn Naqib, Syihab Muhammad ibn Abil Khaliq ibn Usman ibn Mazhar al-anshari, Ismail Ibn Ibrahim ibn Salim ibn al khabbaz.

Usaha belajar Pengobatan

Suatu waktu, Sang imam mencoba memenuhi panggilan gurunya, Imam Syaf’I untuk belajar pengobatan. Dari perkataan sang imam, “Saya tidak tahu pengetahuan setelah halal dan haram yang lebih penting dari pengobatan. Hanya saja ahli kitab telah mengalahkan kita”
Ia menyebutkan saat ia mulai mempelajari ilmu ini, “Saya terfikir untuk belajar ilmu pengobatan, maka kubeli lah buku al-Qanun (Ditulis oleh Ibnu Sina) dan saya pun bertekad untuk mendalaminya. Namun, tiba tiba itu menggelapkan hatiku. Dan saya dalam keadaan seperti itu hingga beberapa hari tidak bisa melakukan apapun. Kemudian saya berfikir dengan masalah ini, ‘dari mana semua ini masuk?’ kemudian Allah mengilhamkan karena kesibukanku dengan ilmu pengobatan itu lah sebabnya. Maka saya pun menjual buku itu dan saya keluarkan semua yang berkaitan dengan ilmu itu. Dan perlahan, kembali tercahayakan hatiku dan aku kembali seperti semula.”

Zuhud dan Wara’

  • Muridnya, Ibnul ‘athar menyebutkan, guru kami Muhammad ibn Abdul Qadir al-Anshari berkata, “Tidaklah aku mengetahui orang qushair yang memiliki risalah dari Imam Nawawi serta gurunya Abu Ishaq Ibrahim ibn Usman al-maghribi. Mereka yang menyatukan antara ilmu dan amal serta kedzuhudan dan wara’ dan perkataan yang hikmah.”
  • Imam ad-zahabi berkata, “Ia meniadakan kesenangan dan kemewahan. Yang disertai dengan takwa, qana’ah dan wara’. Serta selalu dalam pengawasan Allah dalam sendiri atau keramaian. Ia juga meninggalkan condongnya diri pada pakaian yang bagus, makanan yang baik dan berhias gaya.
  • Salah satu wara’nya, ia tidak memakan apel Damaskus karena pada kebun-kebunnya adalah bagian waqaf yang diperuntukkan untuk anak-anak yatim.
  • Ia juga tidak mengambil dari harta yang diberikan padanya. Walau dari apa yang boleh diambil dari gaji dan lainnya. Jikapun ia ambil, ia akan mewakafkannya atau membeli dengannya buku dan meletakkannya di perpustakaan.

Karomahnya

  • Pertemanannya dengan ular besar di rumahnya di rawahiah. Dan ia juga memberinya makanan. Hingga suatu saat, tanpa ia sadari saat ia memberinya sang ular makanannya ada yang melihatnya. Ia berkata, ‘wahai tuan, apa ini?’ dan ia sangat ketakutan. Kemudian sang Imam menjawab, ‘Ia adalah salah mahluk Allah yang tidak memberi manfaat atau memberi bahaya. Saya memintamu agar tidak menceritakan apa yang kamu lihat ini seseorang pun’.
  • Ibnul Athar mengatakan, ‘guru kami al-Hasan ali yang tinggal di masjid bait lahya di luar Damaskus’ menyebutkan, “Saya sakit an-naqras di kakiku. Dan syaikh muhyiddin (Imam Nawawi) datang menjengukku. Saat ia duduk bersamaku, ia mulai berbicara tentang sabar. Setiap ia berbicara, perlahan sakit yang kurasa hilang sedikit demi sedikit. Hingga ketika ia masih berbicara, aku merasa sakitku sudah hilang semuanya. Padahal pada malamnya, aku belum tidur karena menahan sakitnya. Darinya aku tahu, itu dari barakahnya sang Imam.

Wafatnya

Ia wafat malam Rabu 24 Rajab tahun 676 H. Ibnul at-Thar berkata, “2 Bulan sebelum ia wafat aku duduk bersamanya. Saat itu, ada seorang fakir datang kepadanya dan berkata, fulan dari negeri syarkhad memberi salam padamu dan mengirimku dengan teko untukmu. Sang imam menerimanya dan menyuruh untuk meletakkan itu di rumah kebutuhannya. Saya terkejut dengan penerimaannya itu. Dan ia merasakan keterkejutan itu dan berkata, ‘beberapa orang fakir mengirimiku zarbul dan teko ini. Ini adalah perlengkapan safar (perjalanan).

Karyanya

Disebutkan bahwa semua karyanya ia tulis selama 15 tahun. Dan diantaranya :

Syarh Muslim, Ar-raudhah (raudhatut thalibiin), Minhaju at-thalibin, Riyadhus shalihin, al-adzkar, At-tibyan fii adabi hamalatil qur’an, Tahrir at-tanbih, Tashih at-tanbih, al-idhah fil manasik, Al-irsyad, at-taqrib (disyarah oleh imam suyuthi dalam bukunya tadribur raawi, Al-arba’in an-nawawi, Bustanul ‘arifin, Manaqib as-syafi’I, Mukhtasar ushdul ghabah, Al-fatawa, Adabul mufti wal mustafti, Mukhtashar adabil istisqa’, Ru’usul masail, Thuhfatul tullabil fadhail, At-tarkhis fil ikram wal qiyam, Daqaiqul minhaj war raudhah, at-taqrib wat taysir, Al-majmu’ syarh al-muhadzzab (Tidak selesai. Dilanjutkan oleh muridnya Ibnul Athar), Tahzibul asma’ wal lughat, Syarhul wasith (Buku Imam Ghazali), Syarhu shahih bukhari, Syarhu sunan abi Daud.

Biografi ini diringkas dan diterjemahkan dari silsilah ‘alam al-muslimin (al-imam an-Nawawi, syaikhul islam wa ‘umdatul fuqaha’ wal muhadditsin, Abdul Ghani ad-Daqqar, Dar al-Qalam)


Penerjemah : Muhammad Ahmad Harahap
[Artikel ItmusMedia.Com]

9 KOMENTAR

LEAVE A REPLY